Minggu, 16 Desember 2012

NASKAH DRAMA PUAN dari KARTINI


NASKAH DRAMA PUAN dari KARTINI

huruf miring:narasi
Tahun 2012Babak 1

Seorang wanita dengan guratan anggun pada wajahnya mengayuh sepedanya menyusuri jalan-jalan yang dulunya hanya pasir. Ia kayuh sepeda itu menuju sebuah gedung tempat ia mendidik generasi-generasi muda. Ia memasuki sebuah ruang yang menjadi tempat sehari-seharinya. Semuanya yang disana sudah siap dengan apa yang akan ia ajarkan.

Babak 2
Sesosok wanita sedang berdiri di depan cermin tua di dalam bilikya. Sejenak ia tertegun melihat sosoknya dalam cermin. Ia teringat kejadian yang disaksikannya pagi ini.

Babak 3
PENAMPILAN SISWA-SISWI SEKOLAH

Babak 4
(Sejarah perjuangan kaum perempuan di negeri ini adalah sebuah catatan panjang yang seakan terlupakan dan hampir hilang dari lembar catatan bangsa. Pada akhir abad ke 19 dan awal abad 20, di berbagai penjuru Indonesia terdapat tokoh banyak tokoh perempuan terkemukan yang tampil ke barisa terdepan demi menegakkan hak-hak kaumnya, salah satunya sosok KARTINI).
Wanita itu masih tak puas menatap wajahnya dalam cermin. Ia seperti mencari-cari sesuatu yang hilang. Tapi apa? Ia palingkan ekor matanya ke dinding bilik sebelah kanannya, masih seakan enggan meninggalkan bayang wajahnya. Ia angkat tangannya hendak meraih gambar seorang sosok pahlawan perempuan pertama pembela kaumnya itu. Tapi tiba-tiba ia melihat sesuatu yang telah lama hilang dalam cermin di depannya. Ia urungkan mengambil gambar itu dan berpaling menikmati wajah ayu nan damai dalam cermin tua miliknya. Angannya melayang pada beberapa tahun yang lalu.

Babak 5
(Tanpa tanah kemandirian kaum perempuan secara ekonomi di pedesaan, khususnya kaum petani menghilang sehingga perempuan kemudian dibuat menjadi tergantung sepenuhnya pada pasangan ataupun keluarga. Pilihan yang tersedia bagi mereka hanyalah kawin muda, tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki tak dikenal, harus bersedia dimadu, menjadi buruh di kota, atau menjadi buruh migran. Kehidupan perempuan hanyalah sebatas tembok rumah)
(sinar matahari) Jalanan ramai sosok-sosok adam yang lalu lalang. Berjalan kaki. Mengayuh sepeda. Bercengkrama. Dengan pakaian yang lumayan menunjukkan wibawa yang dimiliki sosok-sosok itu. Menyangklong tas. Menenteng buku dan membusungkan dada dengan bangganya. Latar rumah dari gedhek dan jalanan bertanah dengan mentari hangat pagi seakan mendukung suasana cendekiawan.
Seorang anak perempuan dalam salah satu rumah berbilik gedhek memperhatikan langkah-langkah mereka dengan tatapan iri.
Anak   :     Mak, aku ingin jadi seperti mereka. menenteng tas dan buku. Ke sekolah. Dapat membaca, menulis dan…
Mak     :     Nak, kita adalah sosok perempuan. Jangan kau kira tugas kita ini mudah. Keluarga sangat bertumpu pada kita, sosok perempuan. Perempuan ditakdirkan untuk mengurus suami, anak, dan dapur. Tanpa perempuan mereka tak bisa apa-apa.
tiba-tiba dihadapan mereka, sepasang suami istri yang kelihatan baru dari pasar. Belanjaan yang dibawanya jatuh menimpa embun-embun tanah
Suami  :     Heh!! Membawa barang sedikit saja tidak becus.
Istri      :     Maaf (membereskan belanjannya yang jatuh. Sedang sang suami tetap menuntun sepedanya tanpa menghiraukannya)
Suami  :     Cepat!! Aku harus lekas ke kecamatan.
Istri      :     (hanya mengangguk)
Baru saja mereka hendak melanjutkan perjalannya. Tiba-tiba seorang wanita yang membawa lencana kerajaan (cendekiawan) datang dari arah berlawanan. Seorang emban di belakangnya membawa rantang makanan dan beberapa buah-buahan. Sang suami dan wanita itu saling bertegur sapa. Sangat ramah perlakuan laki-laki itu.
Anak   :       Lihatlah Mak. Kemampuan wanita yang ditunjukkan akan mengangkat kehormatannya. Sedang sang istri hanya bisa bersembunyi dibalik ketiak laki-laki. Sungguh ini tak adil.

Babak 6
Wanita bercermin (dalam keadaan seperti itu, muncullah sosok pelopor kebangkitan perempuan pribumi bernama kartini)

Babak 7
Hiruk pikuk lirih perempuan-perempuan penimba ilmu di sekolah perempua seakan telah menciptakan embun untuk sejarah baru bagi kaum perempuan pribumi.
Gerombolan perempuan itu terbagi dua. Disana seorang sosok perempuan sedang mengajari baca tulis dan mengajari berbagai keterampilan. Sosok-sosok itu kini mulai menemukan ruang untuk menyalurkan kemampuan mereka.

Babak 8
Wanita bercermin. Ia menyisir rambut hitamnya yang lurus. Dan meraih sesuatu yang ada di depannya.
(Semenjak sosok pahlawan pribumi itu, derajat wanita dan laki-laki setara. Emansipasi Wanita! Kesetaraan Gender! Perempuan tak lagi hanya bisa bersembunyi di bawah telapak kaki dan ketiak laki-laki)
Perjuangan Kartini di Jepara tak terbelenggu untuk menyebar.


Babak 9
Sepagi ini jalanan sudah bising dengan lalu lalang mobil. Warna jalan semakin ramai dengan warna-warni seragam pemuda-pemudi. Pagi itu semakin indah dengan semaraknya senyum para perempuan.
(pemuda-pemudi menyangklong tas dan menenteng buku dengan penampilan yang tak kalah dengan mentari)
Rumah-rumah kini mulai kembali mengukir peristiwa penghuninya.
(seorang Ibu sedang sibuk berdandan di depan sebuah cermin. Polesan demi polesan melekat diwajahnya dilatari suara tangis sang anak yang dihibur sang suami)
Suami  :     Bu, ini gimana?
Istri      :     Digendong Pak. Ibu sedang terburu-buru harus ke kantor (masih memoles wajahnya)
Suami  :     Bapak juga harus bekerja. Jangan dilupakan kewajiban istri.
Istri      :     (menoleh heran) kewajiban istri? Dia anak siapa? Anak kita. Kewajiban kita. Bukan hanya aku sebagai istri.
Suami  :     Tapi….
Istri      :     Biiiiiiii…..(memanggil pembantu). Tolong bantu Bapak! Biiiiii…..
(seorang pembantu datang dengan setengah berlari)
Pembantu: Iya Nyonya (menggendong bayi sambil meminumkan susu yang baru saja dibuatnya)
Suami  :     Harusnya Ibu yang melakukannya.
Istri      :     Pak, aku benar-benar sibuk. Hari ini di kejar deadline. (mengambil tas dan berkas-berkas pentingnya). Ibu berangkat dulu.
Wanita itu keluar dari rumah dengan di iringi hiruk pikuk jalanan dan anak-anak sekolah.
(Suasana sekolah dengan beberapa siswi yang tak memperhatikan pelajaran, ditinggal dengan bersolek, bermain alat elektronik)



Babak 10
Perjuangan Kartini memang tak sia-sia. Wanita telah memperoleh hak-haknya untuk disetarakan dengan laki-laki. Emansipasi wanita telah menjadi sebagai alat untuk pemuas eksistensi. Bukankah secara kodrat, wanita dan laki-laki berbeda?
Kesetaraan Gender TIDAK untuk dalam segala hal. Tragisnya, paradigma gerakan emansipasi wanita di Indonesia terbangun dalam proses dialektika dan rivalitas yang menempatkan pria dan wanita sebagai kekuatan yang saling berhadap-hadapan. Tak ayal lagi perlawanan kaum wanita atas dominasi pria ditabuh dengan konstalasi isu patriarki dan konstruksi sosial yang bias gender.
Wanita bercermin mulai memasang sanggul di kepalanya, ia tetap menatap dalam dalam cermin tua itu.
Kartini…
akankah masih muncul lagi????
Wanita itu selesai memasang sanggul. Ia menatap dirinya. Tapi, di dalam cermin, muncul sosok yang sama sekali lain. KARTINI.


Casting untuk hari selasa:     Wanita bercermin, suami (babak 5), emban (babak 5), Anak (babak 5), Istri (babak 5), Kartini (babak 7), suami (babak 9), istri (babak 9), baby sitter (babak 9), wanita karir (babak 9).

Apabila ada usul dipersilakan teman2.. :) ^^

1 komentar:

  1. kalo boleh tau ini karya siapa yah? kartini siapa yang dimaksudkan?

    BalasHapus