Sabtu, 15 Desember 2012

ANALISIS NASKAH DRAMA "BILA MALAM BERTAMBAH MALAM"


ANALISIS NASKAH DRAMA "BILA MALAM BERTAMBAH MALAM"
 
BAB I PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang
Karya sastra pada umumnya menceritakan kenyataan hidup dalam bentuk artistik sehingga kehadirannya mempunyai arti tersendiri bagi si pembaca atau si penikmatnya. Menurut Semi (1984: 2) Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Drama sebagai karya sastra tidak terlepas dari pembicaraan di atas. Dalam drama, masalah kehidupan dan kemanusiaan yang dikemukakan biasanya tidaklah terlepas dari aspek-aspek sosial masyarakat dalam hubungan manusia dengan manusia lainnya. Drama juga menyajikan aspek-aspek perilaku manusia terhadap jenisnya dalam kaitannya dengan nilai-nilai kemanusiaan. Kata “drama” berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi. Drama berarti perbuatan, tindakan atau action (Waluyo 2003: 2). Drama juga dapat didefinisikan sebagai cerita yang dipertunjukkan karena pada dasarnya drama merupakan dialog dari tokoh dalam cerita yang diperankan dalam panggung. Drama, sebagai suatu genre sastra mempunyai kekhususan dibandingkan dengan genre sastra lain, layaknya piuisi dan fiksi. Kekhususan drama disebabkan tujuan drama ditulis oleh pengarangnya tidak hanya berhenti sampai pada tahap pembeberan peristiwa untuk dinikmati secara artistik imajenatif oleh pembacanya, melainkan juga harus dilanjutkan pada sebuah pementasan secara visual di atas panggung pertunjukkan. Kekhususan drama inilah yang menjadikan drama sebagai genre sastra yang berorientasi pada seni pertunjukkan dibanding genre sastra lain. Untuk itulah, drama dapat dianggap sebagai suatu karya yang memiliki dua dimensi, yakni dimensi sastra dan dimensi seni pertunjukkan. Penghargaan naskah drama dapat dilakukan dengan cara mengapresiasi sastra lakon tersebut melalui berbagai pendekatan karya sastra. Seperti halnya puisi dan prosa, drama sebagai karya sastra perlu diapresiasikan lewat pembacaan terhadap naskahnya. Pengertian apresiasi dalam drama sama dengan apresiasi sastra lainnya, yakni merupakan penaksiran kualitas karya sastra serta pemberian nilai yang wajar kepadanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang jelas, sadar, serta kritis. Apresiasi sastra ialah penghargaan (terhadap karya sastra) yang didasarkan pemahaman (Panuti Sudjiman, 1990:9).
Setiap naskah drama memiliki keunikan tersendiri bergatung pada penulis drama sendiri. Naskah drama Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya memiliki daya tarik dalam hal amanat bagi pembaca. Oleh karena itu, penulis memilih pendekatan pragmatik untuk menganalisis naskah drama Bila Malam Bertambah Malam. Semakin banyak nilai pendidikan moral, budaya, politik dan atau agama yang terdapat dalam karya sastra dan berguna bagi pembacanya, makin tinggi nilai karya sastra tersebut.

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah apresiasi naskah drama Bila Malam Bertambah Malam dikaji dengan pendekatan pragmatik?

1.3 Tujuan
Mengapresiasi naskah drama Bila Malam Bertambah Malam melalui pendekatan pragmatik.
BAB II PEMBAHASAN



2.1  Metode Peneletian
Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai dan sebagai upaya untuk mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal.
Pada apresiasi drama dalam makalah ini digunakan metode penelitian deskriptif analisis. Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. Metode ini tidak semata-mata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan.

2.2  Sinopsis Naskah Drama Bila Malam Bertambah Malam
Drama Bila Malam Bertambah Malam ini menceritakan seorang janda yang begitu membanggakan kebangsawanannya. Ia hidup di rumah peninggalan suaminya. Gusti Biang adalah janda almarhum I Gusti Rai seorang bangsawan yang dulu sangat dihormati karena dianggap pahlawan kemerdekaan. Gusti Biang hanya tinggal bersama dengan Wayan, seorang lelaki tua yang merupakan kawan seperjuangan I Gusti Ngurah Rai dan Nyoman Niti, seorang gadis desa yang selama kurang lebih 18 tahun tinggal di purinya. Sementara putra semata wayangnya Ratu Ngurah telah lima tahun meninggalkannya karena sedang menuntut ilmu di pulau Jawa.
Sikap Gusti Biang yang masih ingin mempertahankan tatanan lama yang menjerat manusia berdasarkan kasta, membuatnya sombong dan memandang rendah orang lain. Nyoman Niti yang selalu setia melayani Gusti Biang, harus rela menelan pil pahit akibat sikap Gusti Biang yang menginjak-injak harga dirinya. Nyoman Niti sebenarnya ingin meninggalkan puri itu karena ia sudah tidak sanggup menahan radang kemarahan terhadap Gusti Biang. Namun, niatnya selalu urung manakala Wayan yang selalu baik, menghiburnya dan membujuknya untuk bersabar dan tetap setia menjaga Gusti Biang demi cintanya pada Ratu Ngurah. Nyoman Niti tak kuasa lagi menahan emosi yang bertahun-tahun ia pendam manakala Gusti Biang benar-benar menindasnya. Gusti Biang menuduh Nyoman akan meracuninya dengan obat-obatan. Akhirnya Nyoman Niti pun bergegas meninggalkan puri itu. Wayan pun mencoba menahan kepergiannya tapi alangkah terkejutnya Nyoman ketika Gusti Biang membacakan hutang alias biaya yang dikeluarkannya membiayai Nyoman selama kurang lebih 18 tahun. Nyoman tidak menyangka Gusti Biang setega itu padanya hingga akhirnya Nyoman pergi dengan berurai air mata dalam suasana malam yang sunyi.  Wayanpun akhirnya juga diusir oleh Gusti Biang setelah bertengkar sengit tentang persoalan Nyoman dan Ratu Ngurah; dan suami Gusti Biang. Setelah kejadian itu, Ratu Ngurah datang dan bertengkar dengan Gusti Biang begitu mengetahui Nyoman telah pergi.
Konflik semakin tajam mengenai persoalan bedil. Ngurah dan Gusti Biang meminta Wayan mengembalikan bedil yang akan dibawanya pergi, karena bedil itu adalah peluru yang bersarang di tubuh Gusti Ngurah. Wayan akhirnya mengungkapkan bahwa dialah yang menembak Gusti Ngurah yang menjadi pengkhianat. Wayan juga mengemukakan kenyataan bahwa dialah ayah kandung Ratu Ngurah. Wayanlah yang selalu memenuhi tugas sebagai suami bagi istri-istri I Gusti Ngurah Ketut Mantri yang berjumlah lima belas karena Gusti Ngurah seorang wandu. Wayan pun menyuruh Ngurah pergi mengejar cintanya yaitu Nyoman Niti. Ia juga mengingatkan cinta yang tak sampai antara dirinya dan Gusti Biang hanya karena perbedaan kasta yang membuat keduanya begitu menderita. Hubungan Ratu Ngurah dan Nyoman akhirnya direstui oleh Gusti Biang.



2.3  Pendekatan Pragmatik
Pendekatan pragmatik menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama maupun tujuan yang lain.
Menurut Pradopo, pendekatan ini cenderung menilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya. Dalam praktiknya, pendekatan ini mengkaji dan memahami karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan pendidikan (ajaran) moral, agama, maupun fungsi sosial lainnya. Semakin banyak nilai pendidikan moral, budaya, politik dan atau agama yang terdapat dalam karya sastra dan berguna bagi pembacanya, makin tinggi nilai karya sastra tersebut. Di Indonesia pendekatan ini pernah dianut oleh Sutan Takdir Alisyahbana (pada masa Pujangga Baru) yang mengatakan bahwa karya sastra yang baik haruslah yang memberikan manfaat bagi masyarakat, yang kemudian dikenal dengan istilah sastra bertendens (Teeuw 1978).

2.4  Interpretasi Naskah Drama Bila Malam Bertambah Malam
Naskah drama Bila Malam Bertambah Malam ini mengisahkan tentang percintaan yang terkait dengan perbedaan kasta. Nyoman yang tinggal di puri selama 18 tahun dan berasal dari kasta sudra dan Ratu Ngurah, majikannya saling mencintai. Gusti Biang, Ibu Ratu Ngurah karena kesombongan akan kastanya sebagai istri almarhum seorang pahlawan dari ksatria, tak merestui mereka. Drama Bila Malam Bertambah Malam memuat suatu kehidupan yang memandang tingkat manusia dari kasta-kasta. Dalam drama ini manusia yang satu dengan  manusia yang lain berbeda, dan perlakuan yang diberikan antara orang yang  kastanya tinggi dengan orang yang kastanya rendah berbeda. Berikut kutipan dialog dalam drama Bila Malam Bertambah Malam.

WAYAN 
Gusti,  Nyoman  adalah  tunangan  Ngurah,  calon menantu  Gusti  Biang  sendiri,  berani  sumpah, Nyoman  adalah  tunangan  Ngurah.  Ratu  Ngurah sendiri yang mengatakannya. “Aku akan mengawini Nyoman  Bape”  katanya.  “Biar  hanya  orang  desa, pendidikannya  rendah  tapi  hatinya  baik,  daripada ...” biar dimakan leak. Demi apa saja!

GUSTI BIANG 
Tidak,  semua  itu  hasutan.  Anakku  tidak  akan kuperkenankan  kawin  dengan  bekas  pelayannya. Dan,  kami  keturunan  ksatria  kenceng.  Keturunan  raja-raja Bali yang tak boleh dicemarkan oleh darah sudra.

WAYAN 
Tapi kalau Ratu Ngurah menghendaki, bagaimana?

GUSTI BIANG 
Bisa  saja  dipelihara  sebagai  selir.  Suamiku  dulu memelihara  lima  belas  orang  selir.  Kalau  tidak, jangan mendekati anakku.  

WAYAN 
Tapi mereka saling mencintai!

GUSTI BIANG 
Cinta?  Apa  itu  cinta,  itu  hanya  ada  dalam kidung-kidung Smarandanamu.

2.5  Apresiasi Naskah Drama Bila Malam Bertambah Malam dengan Pendekatan Pragmatik
Naskah drama Bila Malam Bertambah Malam menceritakan tentang hal yang terjadi akibat perbedaan kasta. Gusti Biang yang notabene terlahir dari kasta ksatria, mau tidak mau harus menuruti nurani dan logika dengan meninggalkan kehormatannya, atas nama cinta. Perlakuan Gusti Biang terhadap Nyoman dan Wayan sangatlah kasar seperti yang terdapat dalam kutipan drama berikut.
GUSTI BIANG
Tua bangka, ke mana saja kau tadi, kenapa baru datang?

WAYAN 
Tiyang ketiduran di gudang.

GUSTI BIANG
Kejar setan itu, putar lehernya! .. Kejar dia goblok!

WAYAN 
Mana ada setan sore-sore begini Gusti?

GUSTI BIANG
Kejar perempuan setan itu.

WAYAN 
Perempuan, perempuan yang mana Gusti?

GUSTI BIANG
Begundal itu! Masukkan dia ke gudang!

WAYAN 
Maksud Gusti, Nyoman?

GUSTI BIANG
Usir dia dari rumah ini!

WAYAN  Tetapi ... tetapi ...

GUSTI BIANG
Tua  bangka,  pukul  dia  sampai mati,  putar  lehernya. Diam saja seperti kambing!

WAYAN  (Tertawa)
Gusti, Gusti, tidak ada kambing di sini!

GUSTI BIANG
Kau juga tidak waras!

Kutipan drama di atas menjelaskan bahwa Gusti Biang merendahkan Wayan dan Nyoman melalui perilaku dan ucapannya karena perbedaan kasta. Dimana sistem semacam ini, telah menempatkan manusia pada hirarki yang semata didasarkan pada faktor keberuntungan. Dalam artian, ketika seseorang terlahir dari rahim brahmana atau ksatria, otomatis dia akan lebih terhormat dibanding mereka yang lahir dari seorang waisya atau sudra. Dalam drama ini juga diceritakan tentang Ayah Ratu Ngurah yang seorang pahlawan tetapi sebenarnya adalah penghianat,  seperti yang tercantum dalam kutipan dialog di bawah ini.
NGURAH 
Bape  bilang  ayah  saya  penghianat?  Kenapa  Bape

WAYAN  membeo  kata  orang  yang  iri  hati?  Bape sudah bertahun-tahun di sini mengapa mau merusak nama  baik  keluarga  kami? 

SALING BERPANDANG-PANDANGAN

WAYAN  (Dengan  tegas)
Tiyang  tahu  semuanya,  tu Ngurah. Sebab  tiyang  yang  telah  mendampinginya  setiap saat  dulu.  Sejak  kecil  tiyang  sepermainan  dengan  dia,  seperti  tu  Ngurah  dengan  Nyoman.  Tiyang tidak  buta  huruf  seperti  disangkanya.  Tiyang  bisa membaca  dokumen-dokumen  dan  surat-surat rahasia  yang  ada  di  meja  kerjanya.  Siapa  yang  membocorkan  gerakan  Ciung  Wanara  di  Marga dulu? Nica-nica itu mengepung Ciung Wanara yang  dipimpin  oleh  pak Rai, menghujani  dengan  peluru dari  berbagai  penjuru,  bahkan  dibom  dari  udara  sehingga  kawan-kawan  semua  gugur.  Siapa  yang  bertanggung  jawab  atas  kematian  sembilan  puluh enam  kawan-kawan  yang  berjuang  habis-habisan itu?  Dalam  perang  puputan  itu  kita  kehilangan Kapten Sugianyar, kawan-kawan tiyang yang paling baik,  bahkan  kehilangan  pak  Rai  sendiri.  Dialah yang telah berkhianat, dialah yang telah melaporkan gerakan itu semua kepada Nica.

GUSTI BIANG 
Tidak!  Itu  tidak benar! Suamiku  seorang pahlawan Ngurah usir dia.

Naskah drama Bila Malam Bertambah Malam ini bukan semata ingin menentang apa yang disebut sebagai budaya. Dari analisis fakta-fakta tersebut, naskah drama ini menyampaikan kepada pembaca bahwa siapapun orangnya, dan dari rahim siapa ia tercipta, tetaplah seorang manusia dan harus diperlakukan sebagaimana mestinya manusia. Tak peduli apakah orang kaya maupun orang miskin, tetap harus saling menghargai karena hidup tidak dapat lepas dari orang lain.
Pahlawan yang sebenarnya adalah penghianat yang diceritakan dalam naskah drama ini menyampaikan terhadap pembaca bahwa orang-orang terkadang menutup mata terhadap kesalahan seseorang yang dihormati karena tahtanya, Penghianat-penghianat dianggap orang sebagai pahlawan sedangkan yang benar-benar berjasa dilupakan orang dan terkadang pula orang yang selama ini terkenal baikpun belum tentu sebenarnya adalah orang yang baik.
Naskah drama Bila Malam Bertambah Malam menyampaikan kepada pembaca tentang bagaimana semestinya berperilaku kepada sesama manusia dan bahwa seorang yang dianggap terhormatpun tak luput dari kesalahan.


BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Naskah drama Bila Malam Bertambah Malam memiliki banyak kaitannya dengan kedudukan manusia. Naskah drama ini menceritakan tentang cinta yang terhalang oleh perbedaan kasta. Pendekatan pragmatik digunakan menganalisis naskah drama Bila Malam Bertambah Malam ini untuk menemukan hal yang didapat oleh pembaca. Melalui pendekatan pragmatik yang digunakan, dapat diketahui bahwa hal yang disampaikan kepada pembaca ialah bahwa kedudukan manusia adalah sama, bagaimana semestinya berperilaku kepada sesama manusia dan bahwa seorang yang dianggap terhormatpun tak luput dari kesalahan.




1 komentar: