Minggu, 16 Desember 2012

FAKTA KEMANUSIAAN CERPEN JANGAN MAIN-MAIN (DENGAN KELAMINMU) KARYA DJENAR MAESA AYU (TINJAUAN STRUKTURALISME GENETIK)





FAKTA KEMANUSIAAN CERPEN JANGAN MAIN-MAIN (DENGAN KELAMINMU)
KARYA DJENAR MAESA AYU (TINJAUAN STRUKTURALISME GENETIK)



MAKALAH

diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan mata kuliah sosiologi sastra



Oleh
Siti Lailatus Saadah
NIM 100210402110



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2012




BAB 1. PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat, perilaku dan perkembangan masyarakat. Sosiologi sendiri berasal dari kata Latin socius yang berarti “kawan atau masyarakat” dan kata Yunani logos yang berarti “ilmu”. Jadi sosiologi adalah ilmu mengenai masyarakat. Secara harfiah sosiologi berarti ilmu tentang cara bergaul yang baik dalam masyarakat(dalam Ekarini, 2003:2).
Menurut Ian Watt, sosiologi sastra sendiri merupakan tampilan dari keadaan masyarakat dan fakta-fakta sosial dalam karyanya. Sosiologi sastra memandang karya sastra berhubungan dengan masyarakat. Seperti dikatakan oleh Baribin, bahwa cara kerja pendekatan sosiologi dipandu oleh hubungan karya sastra dengan kelompok sosial, hubungan selera masyarakat dengan kualitas karya sastra, serta hubungan gejala yang timbul di sekitar pengarang dengan karyanya (dalam Ekarini, 2003:11). Perspektif sosiologi sastra disini, dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu (1) memandang sastra sebagai dokumen sosial, (2) memandang situasi sosial pengarang, (3) memandang cara yang dipakai pengarang dalam membuat karyanya berkaitan dengan kondisi sosial budaya dan peristiwa sejarah.
Adapun hubungan antara sosiologi dan sastra yang dikemukakan oleh Damono (1978:6), bahwa “sosiologi adalah telaah objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat, telaah tentang lembaga dan proses sosial”. Selanjutnya, Damono (1978:7)  juga mengungkapkan bahwa “sosiologi mencari tahu bagaimana masyarakat dimungkinkan, bagaimana ia berlangsung dan bagaimana ia tetap ada”. 
Berdasarkan penjelasan-penjelasan tentang sosiologi sastra di atas, sangatlah penting diteliti karya sastra seperti cerpen. Cerita pendek adalah salah satu genre sastra di samping puisi dan novel. Cerita pendek (cerpen) juga merupakan jenis karya sastra yang dapat memberikan manfaat kepada pembacanya, diantaranya dapat memberikan pelajaran atau norma-norma tentang kehidupan. Oleh sebab itu, penelitian terhadap karya sastra penting dilakukan untuk mengetahui relevansi karya sastra dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat.
Dipilihnya cerpen Jangan main-main(dengan kelaminmu) yang ditulis oleh Djenar Maesa Ayu bukan tanpa pertimbangan atau alasan sebab cerpen ini memiliki keistimewaan (bagi penulis) dibandingkan dengan cerpen yang ditulis pengarang-pengarang yang lain. Keistimewaannya terletak pada  fakta kemanusiaan  yang terkandung di dalamnya. Hal lain yang mendukung penulis tertarik adalah pengungkapan bahasanya yang berani (dalam mengangkat ketabuan), akan tetapi dikemas dalam bentuk yang unik. Oleh sebab itu, penulis memilih cerpen tersebut untuk dikaji lebih dalam mengenai fakta kemanusiaan yang terkandung di dalamnya.
Titik pandang yang diambil dalam  mengkaji sosiologi sastra terhadap cerpen Jangan main-main(dengan kelaminmu)  ini adalah fakta kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Fakta kemanusiaan disini dapat dilihat dari penggunaan bahasanya yang khas, sehingga dalam mengkaji sosiologi cerpen tersebut,  bisa lebih gampang dalam memahami dan menemukan maksud yang terkandung didalamnya. Selain itu, pendekatan yang digunakan dalam melakukan sosiologi terhadap cerpen Jangan main-main(dengan kelaminmu)  adalah pendekatan strukturalisme genetik. Pendekatan strukturalisme genetik sendiri adalah pendekatan terhadap karya sastra yang mencari struktur dari asal-usulnya (genetik) di dalam proses sejarah suatu masyarakat (Lucien Goldman dalam Ekarini, 2003:76). Oleh karena itu, pendekatan ini sesuai dengan kekhasan yang terdapat dalam cerpen Jangan main-main(dengan kelaminmu)  dan mempermudah penulis dalam memahami  cerpen tersebut serta membantu dalam menemukan fakta kemanusiaan yang terdapat didalamnya lewat bahasa-bahasa yang digunakan.
Membaca suatu cerpen merupakan suatu cara untuk memahaminya. Lalu mencari makna dari kata-kata atau dialog-dialog yag terdapat dalam cerpen. Metode ini lebih mengarah kepada titik pandang dan pendekatan yang di angkat. Jadi, menerapkan metode  ini dengan dimulai dari membaca secara keseluruhan. Lalu mulai mengidentifikasikan makna dari dialog-dialog atau kata-kata yang terdapat dalam cerpen. Dengan demikian, barulah dapat ditentukan fakta kemanusiaan yang terkandung di dalam cerpen tersebut.
Berangkat dari permasalahan yang sudah diuraikan di atas, penulis mencoba mengkaji fakta kemanusiaan, dengan dikaitkan dengan pengungkapan bahasa yang digunakannya. Dengan harapan, hasil pengkajian ini dapat memberikan gambaran tentang fakta kemanusiaan yang bisa dijadikan pelajaran dalam kehidupan nyata.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mencoba mengidentifikasi masalah. Identifikasi masalahnya sebagai berikut:
1.  Bagaimana unsur intrinsik cerpen Jangan main-main(dengan kelaminmu?
2. Bagaimanakah fakta kemanusiaan yang terkandung dalam cerpen Jangan main-main(dengan kelaminmu)?
1.3 Tujuan
Tujuan di buat makalah ini adalah sebagai salah satu tugas ujian semester mata kuliah sosiologi sastra. Mahasiswa dapat mengetahui kajian sosiologi cerpen  Jangan main-main(dengan kelaminmu) dengan menggunakan pendekatan strukturalisme genetik  dan mahasiswa juga dapat mengetahui fakta kemanusiaan yang terkandung dalam cerpen Jangan main-main(dengan kelaminmu) .
1.4 Landasan Teori
Konsep sosiologi sastra yang dikemukakan Wellek dan Warren (dalam Ekarini, 2003:12) melibatkan sosiologi pengarang, sosiologi karya dan sosiologi pembaca. Makalah ini menitik beratkan kepada sosiologi karya sastra. Sosiologi karya sastra maksudnya adalah isi karya sastra, tujuan serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial. Sosiologi karya mencakup beberapa pendekatan, pertama, pendekatan yang mempelajari sastra sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial. Kedua, dokumen sosial sastra dipakai untuk menguraikan ikhtisar sejarah sosial. Ketiga, penelusuran tipe-tipe sosial. Keempat, perlunya pendekatan linguistik. Sebelum melakukan pengkajian sosiologi sastra, sebelumnya dilakukan pengkajian strukturalisme terlebih dahulu. Strukturalisme mengkaji unsur-unsur pembentuk karya sastra. Unsur-unsur intrinsik novel menurut Lucien Goldmann adalah:
1)    Akar cerita atau gagasan utama yang sekaligus memaknai keseluruhan isi cerita; disebut juga tema.
2)    Plot; alur cerita, alur yang mengembang menjadi cerita.
3)    Garis edar, yaitu alur kecil yang fungsinya mempertemukan para tokoh.
4)    Latar adalah tempat di mana tokoh melaksanakan tugasnya dalam rangka keseluruhan cerita. Latar dibagi dua, yaitu secara geografis dan secara antropologis. Secara geografis berarti tempat secara materi seperti di rumah, di kantor, dan sebagainya. Latar antropologis berarti lingkungan sosial budaya, moral etika, budaya tradisi, pemikiran, dan lain-lain.
5)    Penokohan, yaitu tokoh-tokoh ciptaan yang merupakan pelaksana cerita. Tokoh dibagi menjadi dua, yaitu tokoh utama dan tokoh pendukung. Menurut karakternya, tokoh berkarakter baik disebut protagonis, tokoh berkarakter sebaliknya disebut antagonis.
6)    Sudut pandang yang digunakan penulis.
7)    Atmosfer, yaitu situasi tokoh seperti suasana hati, pikiran, atau juga keadaan sekitarnya.
            Setelah itu, barulah penulis mulai mengkaji fakta kemanusiaan lewat pendekatan strukturalisme genetiknya. Fakta kemanusiaan disini adalah segala aktivitas atau perilaku manusia baik yang verbal maupun fisik. Disini penulis hanya mengambil fakta sosialnya.































BAB 2. PEMBAHASAN

2.1.1 Sinopsis Novel
Dalam novel ini pembaca disuguhkan cerita tentang konflik batin antara suami dan istri yang sudah bosan menjalani kehidupan rumah tangganya karena istri sudah berubah tidak sesegar dulu lagi, sehingga suami merasa jenuh dalam keadaan tersebut, akhirnya suami pun berselingkuh dengan perempuan lain. Padahal Istri sudah berupaya untuk tetap merawat kebugarannya dengan melakukan senam dan fitness. Pada akhir cerita ini suami ditinggalkan oleh Istri dan Selingkuhannya.
sudah saatnya saya bertindak tegas. Tidak seperti dirinya yang hanya dapat bergumam, saya akan menentukan dan memilih kebahagiaan saya sendiri  (hal.12)
“sudah saatnya saya bertindak tegas. Saya berhak menentukan dan memilih kebahagiaan saya sendiri (hal.12) “Saya hanya main-main, Ma… saya cinta kamu. Beri kesempatan saya untuk memperbaiki kesalahan saya.”

“Saya sering katakana, jangan main api nanti terbakar.”
“Saya tidak main-main. I’m leaving you…”
“Saya tidak main-main. I’m leaving you…”

Ini tidak main-main!

                                                                                                Jakarta, 8 Desember 2002, 8:52:47
2.1.2 Unsur Instrinsik
Dalam cerpen yang berjudul Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu). pengarang menyuguhkan satu cerita tentang perselingkuhan suami. Itu memang hal yang biasa, namun pengarang menyajikan dengan sangat unik melaui berbagai macam sudut pandang. Sehingga pembaca bisa menjadi seseorang yang berbeda didalam satu cerita dan merasakan apa yang para tokoh yang semuanya dijadikan sudut pandang pengarang. Perselingkuhan memang hal yang sangat menyakitkan, namun setelah membaca cerpen tersebut, kita tahu alasan mengapa adanya perselingkuhan. Entah itu karena “penyakit” yang sudah menjadi kebiasaan atau pun karena sang istri tidak bisa menjaga penampilannya agar suami merasa nyaman.
Awalnya memang urusan kelamin, ketika pada suatu hari ia terbangun dan terperanjat di sisi seonggok daging, sebangkol lemak, gulungan kerut merut hingga suara kaleng rombeng. Saya sudah terbiasa mendengar keluhan suami-suami tentang istri-istri mereka. Saya juga tahu, mereka senang, sayang sampai cinta pada saya, awal mulanya pasti urusan fisik, urusan mata, urusan syahwat, mana mungkin bertemu langsung sayang, pasti senang dulu, dan senang itu bukan  urusan perasaan tapi pemandangan bukan? Sebenarnya, saya tidak terlalu nyaman mendengar keluhanya itu. Saya toh sorang perempuan yang suatu saat akan menjadi istri, yang berlemak, berkerut-merut dan cerewet seperti kaleng rombeng, yang suatu saat nanti mungkin akan dicampakan dan dilupakan seperti  istrinya  sekarang. Tapi sekarang ya sekarang, nanti ya nanti. Saya cantik, ia mapan. Saya butuh uang, ia butuh kesenangan. Serasi, bukan? Namun begitu, saya sering menasehatinya supaya tidak teralalu kejam begitu pada istri. Sekali-sekali, tak ada salahnya member istri sentuhan dan kepuasan. Bukannya sok pahlawan. Bukannya saya sok bermoral. Bukannya saya membela perempuan. Tapi saya memang tak ada beban. Target saya hanya kawin urat, bukan kawin surat. Tapi ia kerap menjawab, “kalau saya saja jengah bertemu, apalagi kelamin saya?” (Hal:6)

1.    Tokoh- tokoh yang terdapat pada novel ini,yaitu:
a)        Suami (diceritakan pada paragraf pertama)
b)        Sahabat  suami  (diceritakan pada setiap paragraf kedua) 
c)        Pacar sang suami /selingkuhan (diceritakan pada setiap paragraf ketiga)
d)       Istri (diceritakan pada paragraf keempat)
2.    Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju.
3.    Latar :
a. Latar tempat
·           Tempat tidur. Latar tempat ini diceritakan pada awal cerita. Hal tersebut terlihat dari pernyataan dibawah ini:
 ” Ketika pada suatu hari saya terbangun dan terperanjat di sisi seonggok daging tak segar dipenuhi gajih yang tak akan mudah hilang “. (hal. 3).
·           Dijalan, dikantor, dirumah Seperti pada kutipan di bawah ini:
” Sebentar kemudian saya akan terjebak kemacetan, bertemu klien yang menyebalkan, dan karyawan yang tak berhenti minta tanda tangan, rutinitas yang membosankan. Anehnya, sejak hari itu, saya lebih memilih lekas-lekas berada ditengah-tengah kemacetan dan segudang rutinitas yang membosankan itu ketimbang lebih lama di rumah”. (hal.5).
b. Latar Suasana
·         Kecewa
 Ketika pada suatu hari saya terbangun dan terperanjat di sisi seonggok daging tak segar dipenuhi gajih yang tak akan mudah hilang dengan latihan senam maupun fitness(hal.3)
·           Sedih
 Mungkin saya sudah terlalu merendahkan diri saya sendiri dengan membiarkannya menginjak-injak harga diri saya selama pernikahan kami.” (hal.12)
·         Senang
 “Saya butuh uang, ia butuh kesenangan. Serasi, bukan.” (hal. 6).
·         Gelisah
Sayheran. kehamilan saya sepertinya tidak juga membuatnya bahagia” (hal.12)
4.    Sudut pandang:
a)        Sudut pandang dalam novel ini terdiri dari empat orang dengan sudut pandangnya masing-masing( Suami,Sahabat suami , Wanita simpanan dan Istri).
b)        Sudut pandang orang pertama, ( Suami dan istri)
c)        Sudut pandang orang ketiga, (Sahabat  suami dan Pacar sang suami /selingkuhan)
5.    Tema
Djenar menyajikan sebuah dunia yang dipenuhi karakter manusia yang terluka, oleh norma masyarakat, dan pengkhianatan.
6.    Amanat yang terkandung adalah
a)        Hati-hatilah dalam bermain dengan kelamin! kalau tidak ingin mengatakan jangan main-main dengan kelamin! suatu pelajaran hidup bahwa jika kita mencintai seseorang jangan melihat dari fisik, karena keindahan fisik akan berubah.
b)        Sebagai seorang istri haruslah pintar-pintar merawat diri agar suami betah dirumah dan tidak selingkuh
2.2 Fakta Kemanusiaan yang Terdapat Dalam Cerpen Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu)
            Fakta kemanusiaan dalam tinjauan makalah ini adalah  fakta sosial yang terkandung di dalam cerpen, yang mana hal ini diharapkan dapat memberikan pencerahan baru untuk proses sejarah dalam masyarakat. Tinjauan fakta sosial disini, dilihat dari sosiologi karyanya.
            Fakta sosial sendiri bersifat eksternal, umum (general), dan memaksa (coercion). Fakta sosial mempengaruhi tindakan-tindakan manusia. Tindakan individu merupakan hasil proses pendefinisian reslitas sosial, serta bagaimana orang mendefinisikan situasi. Asumsi yang mendasari adalah bahwa manusia adalah makhluk yang kreatif dalam membangun dunia sosialnya sendiri.
Fakta sosial inilah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi. Fakta social dinyatakan oleh Emile Durkheim sebagai barang sesuatu (Thing) yang berbeda dengan ide. Barang sesuatu menjadi objek penyelidikan dari seluruh ilmu pengetahuan. Ia tidak dapat dipahami melalui kegiatan mental murni (spekulatif). Tetapi untuk memahaminya diperlukan penyusunan data riil diluar pemikiran manusia. Fakta sosial ini menurut Durkheim terdiri atas dua macam :
1.    Dalam bentuk material : Yaitu barang sesuatu yang dapat disimak, ditangkap, dan diobservasi. Fakta sosial inilah yang merupakan bagian dari dunia nyata contohnya arsitektur dan norma hukum.
2.     Dalam bentuk non-material : Yaitu sesuatu yang ditangkap nyata ( eksternal ). Fakta ini bersifat inter subjective yang hanya muncul dari dalam kesadaran manusia, sebagai contoh egoisme,opini,dll.
        Pokok persoalan yang harus menjadi pusat perhatian penyelidikan sosiologi menurut
paradigma ini adalah fakta-fakta sosial. Secara garis besar fakta sosial terdiri atas dua tipe, masing-masing adalah struktur sosial dan pranata sosial. Secara lebih terperinci fakta sosial itu terdiri atas : kelompok, kesatuan masyarakat tertentu, system sosial, peranan, nilai-nilai, keluarga, pemerintahan dan sebagainya. Menurut Peter Blau ada dua tipe dasar dari fakta social:
1.    Nilai-nilai umum ( common values )
2.    Norma yang terwujud dalam kebudayaan atau dalam subkultur.
Jadi, fakta sosial yang terapat dalam cerpen  Jangan main-main(dengan kelaminmu) yang ditulis oleh Djenar Maesa Ayu, yaitu:
1.    Nilai-nilai umum ( common values )
a.    Nilai Sosial merupakan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, dan nilai social berhubungan dengan cara seseorang berintrinsik dan bersosialisasi, seperti yang ada dalam kutipan di bawah ini:” Peselingkuhan di masyarakat umum merupakan hal yang sangat sensitive dan merupakan norma sosial yang dilarang.
Saya heran, selama lima tahun kami menjalin hubungan, tidak sekali pun terlintas di kepala kami tentang pernikahan. Tapi jika saya katakan hubungan kami itu hanya main-main, apalagi hanya sebatas hasrat seksual, dengan tegas saya akan menolak. saya sangat tahu aturan main. Bagi wanita secantik saya, hanya dibutuhkan beberapa jam untuk main-main, mulai main mata hingga main kelamin. Bayangkan! Berapa banyak main-main yang bisa saya lakukan dalam lima tahun?
...
Awalnya memang urusan kelamin. Pada suatu hari, ia terbangun dan terperanjat di sisi seonggok daging yang tak lagi segar. Ah... saya tak sampai hati menyampaikan apa yang diutarakannya pada saya. Tak pantas menyamakan seorang istri dengan seonggok daging, apalagi daging yang tak segar. Bahkan ia mengatakan senam kebugaran tak akan menyelamatkan istrinya dari serbuan lemak. Hanya sedot lemak yang dapat menyelamatkan, katanya. Setelah itu pun harus pandai-pandai merawatnya. Dan kerut-merut yang menggelayut di wajah istrinya, hanya dapat diselamatkan dengan cara bedah plastik. Akupunktur hanyalah sia-sia belaka. Sebenarnya kalimat sia-sia belaka pun sudah saya perhalus. Yang ia katakan adalah, diperlukan berjuta-juta jarum untuk mengembalikan kulit istrinya ke kenyalan semula. Lebih gilanya lagi, ia menanyakan apakah ada teknologi yang dapat mengubah pita suara manusia. Suara istrinya bagai kaleng rombeng, bagai robot. Ia lebih memilih terjebak kemacetan, bertemu klien yang menyebalkan, ketimbang berlama-lama di rumah. Dan dengan santai dengan muatan gurau ia berkata,“Kalau saya saja sudah jengah bertemu, apalagi kelamin saya?”
                      ...
Saya heran. Ternyata saya hamil. Padahal jarang sekali ia menyentuh saya. Benar-benar hanya sekali dalam tiga bulan, bahkan tidak jarang sampai lima bulan. Itu pun dengan lampu yang dipadamkan dan matanya pun selalu terpejam. Seolah-olah ia sedang tidak bersama saya. Ia sedang berada di dunia lain dan tidak mau berbagi dengan saya. Tapi saya hamil. Saya akan memberikannya seorang anak. Mungkin perkawinan kami bisa terselamatkan dengan kelahiran anak kami kelak. Ah... saya tidak bisa bayangkan, apa yang akan terjadi setelah saya melahirkan?

b.    Nilai Agama
Perselingkuhan menurut Islam merupakan perbuatan yang sangat tercela berikut dijelaskan oleh ayat-ayat Al-Quran:
“Dan janganlah kamu mendekati zina,sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji (fahisyah) dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32).
Allah S.W.T berfirman, “Perempuan yang jahat untuk lelaki yang jahat dan lelaki yang jahat untuk perempuan yang jahat, perempuan yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk perempuan yang baik.” (an-Nur':26).
Dalam cerpen tersebut bisa dilihat dari cuplikan berikut:
“Saya hanya main-main, Ma... saya cinta kamu.
  Beri kesempatan saya untuk memperbaiki kesalahan saya.”
“Saya sering katakan, jangan main api nanti terbakar.”
“Saya tidak main-main. I'm leaving you...”
“Saya tidak main-main. I'm leaving you...”
  Ini tidak main-main!

2.      Norma yang terwujud dalam kebudayaan atau dalam subkultur.
Melihat nilai-nilai umum diatas, norma yang terwujuf dalam kebudayaan jika berangkat dari cerpen tersebut  adalah adanya suatu cerminan dalam sebuah keluarga bahwa perselingkuhan itu dilarang karena akan merugikan banyak pihak, terutama istri dan anaknya. Hal ini amat terasa kental sekali dalam lingkungan Indonesia, dimana dilarang adanya perselingkuhan. Akan tetapi, penyikapan terhadap perselingkuhan ini, berbeda jauh sekali jika dilihat dalam kultur masyarakat Suku Mosuo di Cina. Suku ini menjadi suku paling memuja kaum wanita di Negri China, wanita di suku ini lebih di hargai dibandingkan pria dan uniknya wanita di suku ini boleh bergonta ganti pasangan seks pria dengan bebas bahkan sampai hamil tidak ada pernikahan di Suku Mosuo.  Melihat hal tersebut, terlihat jelas bahwa penyikapan dalam kebudayaan terhadap suatu kadar norma atau penetapan norma itu berbeda-beda.  Hal lain yang  mendorong wujud dari pelarangan keras terhadap perselingkuhan dalam judul cerpen tersebut Jangan main-main(dengan kelaminmu adalah sebagai berikut:
“Saya hanya main-main, Ma... saya cinta kamu.
  Beri kesempatan saya untuk memperbaiki kesalahan saya.”
“Saya sering katakan, jangan main api nanti terbakar.”
“Saya tidak main-main. I'm leaving you...”
“Saya tidak main-main. I'm leaving you...”
  Ini tidak main-main!


























BAB 3. PENUTUP

3.1  Simpulan
1.    Unsur intrinsik cerpen Jangan main-main(dengan kelaminmu :
a)      Tokoh- tokoh yang terdapat pada novel ini,yaitu: 1)Suami, 2) Sahabat  suami), 3) Pacar sang suami /selingkuhan, 4) Istri.
b)      Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju.
c)      Latar :
 Latar tempat:Tempat tidur, di jalan, di kantor, di rumah
             Latar Suasana:kecewa, sedih, senang, gelisah
d)     Sudut pandang: sudut pandang orang pertama, ( Suami dan istri), sudut pandang orang ketiga, (Sahabat  suami dan Pacar sang suami /selingkuhan)
e)      Tema: Djenar menyajikan sebuah dunia yang dipenuhi karakter manusia yang terluka, oleh norma masyarakat, dan pengkhianatan.
f)       Amanat yang terkandung adalah
Hati-hatilah dalam bermain dengan kelamin, kalau tidak ingin mengatakan jangan main-main dengan kelamin, suatu pelajaran hidup bahwa jika kita mencintai seseorang jangan melihat dari fisik, karena keindahan fisik akan berubah.
2.    Fakta Kemanusiaan yang Terdapat Dalam Cerpen Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu)
            Fakta kemanusiaan dalam tinjauan makalah ini adalah  fakta sosial yang terkandung di dalam cerpen, menurut Peter Blau ada dua tipe dasar dari fakta social:
(1)   Nilai-nilai umum ( common values )
Nilai Sosial merupakan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, dan nilai social berhubungan dengan cara seseorang berintrinsik dan bersosialisasi, seperti yang ada dalam kutipan di bawah ini:” Peselingkuhan di masyarakat umum merupakan hal yang sangat sensitive dan merupakan norma sosial yang dilarang.
(2)   Nilai Agama
Perselingkuhan menurut Islam merupakan perbuatan yang sangat tercela.
3.      Norma yang terwujud dalam kebudayaan atau dalam subkultur.
Melihat nilai-nilai umum diatas, norma yang terwujuf dalam kebudayaan jika berangkat dari cerpen tersebut  adalah adanya suatu cerminan dalam sebuah keluarga bahwa perselingkuhan itu dilarang karena akan merugikan banyak pihak, terutama istri dan anaknya. Hal ini amat terasa kental sekali dalam lingkungan Indonesia, dimana dilarang adanya perselingkuhan. Akan tetapi, penyikapan terhadap perselingkuhan ini, berbeda jauh sekali jika dilihat dalam kultur masyarakat Suku Mosuo di Cina. Suku ini menjadi suku paling memuja kaum wanita di Negri China, wanita di suku ini lebih di hargai dibandingkan pria dan uniknya wanita di suku ini boleh bergonta ganti pasangan seks pria dengan bebas bahkan sampai hamil tidak ada pernikahan di Suku Mosuo.  Melihat hal tersebut, terlihat jelas bahwa penyikapan dalam kebudayaan terhadap suatu kadar norma atau penetapan norma itu berbeda-beda.  Hal lain yang  mendorong wujud dari pelarangan keras terhadap perselingkuhan, tercermin dalam judul cerpen tersebut Jangan main-main(dengan kelaminmu yang mengisyaratka untuk tidak melakukan hal yang main-main, apalagi sampai merugikan orang lain.













       










DAFTAR PUSTAKA

Damono,Sapardji Djoko. 1979. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Kinayati Djojosuroto, Teori Sastra: Diktat Perkuliahan Kesastraan. (FBS/PPS UNJ, 2010), pp. 23-24.
Saraswati,Ekarini. 2003. Sosiologi Sastra. Malang: Bayu Media.
Che. 2009. Sosiologi Perspektif Fakta Sosial.  http://de-kill.blogspot.com/2009/05/sosiologi-perspektif-fakta-sosial.html. [ 12 September 2012]





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar